JANGAN TELADANI DENGAN PERSELISIHAN

    Beberapa pengurus Gereja di Pinggiran sebuah kota Kabupaten itu sedang duduk bersama dengan orang tua yang memang selama ini menjadi “sesepuh” (tua-tua) gereja tersebut.  Para pengurus gereja itu sedang bingung, karena 2 hamba Tuhan yang ada di gereja tersebut saling berebut pengaruh atas jemaat yang dilayani. Dan yang memusingkan para pengurus gereja tersebut anggota jemaat sudah mulai terbelah menjadi dua. Dan sudah tentu hal tersebut tidak sehat.

 

Tidak sehat untuk pertumbuhan gereja itu sendiri, dan juga tidak sehat untuk kesaksian bagi “orang-orang lain”. Yang tidak sehat lagi adalah mimbar tidak lagi dipakai untuk menjelaskan kebenaran firman Tuhan, namun mulai saling sindir, dan saling merendahkan.

   Mendengar keluhan para pengurus gereja tersebut, orang tua itu memenjamkan mata, dan dari mata orang tua tersebut terlihat genangan air mata, yang mencoba ditahan. Ruang tamu itu menjadi senyap, yang terdengar adalah tarikan nafas yang berat dari orang-orang tersebut. Para pengurus gereja itu berdebar, apakah yang akan dikatakan “sesepuh” gereja tersebut. Berkali-kali melihat orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah meredakan gemuruh yang ada di dadanya. Setelah beberapa saat orang tua itu berkata: “Sebaiknya kedua orang yang sedang berebut pengaruh itu mengundurkan diri saja atau kalian meminta supaya mereka berhenti”, demikian katanya pelan dan dalam. “Janganlah teladani jemaat  dengan perselisihan”.

    Apa yang terjadi dalam gereja di pinggiran kota itu merupakan pelajaran bagi kita. Gereja harus mendatangkan “Shalom” artinya mendatangkan damai sejahtera bukan hanya didalam diri para warga gerejanya, namun juga di mana gereja itu berada. Jika para pembawa firman Tuhan yang seharusnya kehidupan mereka menjadi teladan namun saling berselisih antara satu dengan yang lain untuk kepentingan-kepentingan yg tidak jelas, maka  apa yang terjadi tidak mendatangkan sejahtera. Firman Tuhan untuk bangsa yang telah dipilihNya demikian: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yermia 29:7). Sebagai umat mereka di perintahkan Tuhan di manapun mereka berada  mendoakan supaya mendatangkan sejahtera, dan tentunya hidup merekapun harus mendatangkan sejahtera. Paulus dalam nasihatnya berkaitan dengan hal tersebut demikian: “ Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya”(Rom 13:13-14).

PERSELISIHAN ANTARA SESAMA ORANG PERCAYA BAGAIMANAPUN TIDAK PERNAH MENJADI SEJAHTERA BAGI YANG MELAKUKAN DAN JUGA  BAGI SESAMA, BAHKAN MALAH MENJADI CIBIRAN